Rabu, 23 November 2011

Batik Pacitan kian terkenal

Persaingan harga dan peluang pasar masih menjadi kendala utama produk batik tulis Pacitan. Hal itu pula yang menjadikan potensi unggulan tersebut mengalami kesulitan menembus persaingan dengan sesama produk batik di tanah air
Demikian diungkapkan bupati Pacitan Indartato saat membuka sosialisasi pengembangan produk unggulan batik kabupaten Pacitan dengan pendekatan One Village One Produc (OVOP) melalui Koperasi, di pendopo kabupaten Kamis (03/3). Walapun sebenarnya lanjut bupati, hasil industri batik Pacitan secara kualitas tidak kalah dengan yang lain. Begitu juga dengan jenis motif dan keaslian batik itu sendiri.

Untuk itu pemerintah melalui dinas terkait semaksimal mungkin akan membantu para perajin yang tergabung dalam beberapa industri rumah tangga di Pacitan agar terus bisa mengembangkan produk batik. Salah satunya dengan memberikan bantuan permodalan serta mengikutsertakan produk batik asli Pacitan dalam setiap kegiatan pameran.

Bukan hanya dari pemerintah daerah, perhatian terhadap perkembangan industri batik di Pacitan juga diberikan oleh kementerian Negara Koperasi dan UKM. Bahkan produk batik Pacitan sudah terdaftar sebagai potensi asli daerah yang akan dikembangkan melalui program One Village One Product (OVOP). Dijelaskan Deputi Bidang Sumber daya UKMK kementerian Negara Koperasi dan UKM I Wayan Dipta, program OVOP ini merupakan upaya pemerintah untuk mengembangkan produk lokal agar memiliki daya saing dan nilai jual lebih global. Selain itu juga mendorong perajin lebih kreatif serta inofatif sesuai selera pasar.Pemerintah juga akan melakukan pembinaan guna peningkatan sumber daya manusia.

Lebih lanjut Wayan Dipta berharap dengan adanya OVOP ini para perajin lebih bisa padu dan kompak. Jangan sampai diantara para perajin saling menjatuhkan karena akan berdampak buruk terhadap iklim pasar. Ada beberapa alasan mengapa batik Pacitan dijadikan produk unggulan. Diantaranya batik merupakan unggulan daerah yang sangat lokal, mengunakan SDA lokal, selalu tampil baik, memiliki nilai tambah serta pasar yang luas.

Dikabupaten Pacitan sendiri sesuai data Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan tercatat ada 12 industri rumah tangga yang menghasilkan produk batik dengan jumlah karyawan kurang lebih 325 orang. Dari jumlah itu separuh diantaranya merupakan industri rumah tangga skala besar. Sayang, meskipun produk para perajin tersebut sudah memenuhi standart pasar, baru 2 produk batik yang terdaftar dan berlabel.

http://www.pacitankab.go.id/berita/berita.php?id=570

Tidak ada komentar:

Posting Komentar