Rabu, 30 November 2011

Sesar Grindulu Pacitan Dalam Status Waspada

Sesar Grindulu yang membelah kota Pacitan



Bila aktivitas pada salah satu patahan besar Pulau Jawa itu benar-benar terjadi, 
efek gempa dengan skala lebih besar bisa terjadi dengan efek getaran yang meluas. 
Hal itu sebagai akibat pergerakan retakan pada sisi lempeng bumi yang berada di 
selatan Pulau Jawa sebagaimana pernah terjadi pada aktivitas sesar Opak, 
yang menyebabkan gempa berskala besar di kawasan pesisir selatan Yogyakarta 
akhir 2004.

Sementara itu, staf ahli Geologi Dinas Pertambangan dan Energi Pacitan, 
Hadi Surahmanmengakui, Kabupaten Pacitan termasuk salah satu kawasan 
paling rawan gempa tektonik di Jawa Timur. “Semua daerah di kawasan pesisir 
selatan Jawa sebenarnya sama-sama rawan jika terjadi gempa tektonik. 
Tapi, Pacitan masuk kategori risiko tinggi karena berada di jalur Sesar Grindulu,
” terang Hadi, Sabtu (26/2).
Foto Udara Sungai Grindulu
Sesar Grindulu yang dimaksud Hadi, merupakan jalur patahan lempeng benua 
yang membentuk Pulau Jawa, yang membentang di lima kecamatan, 
yakni Kecamatan Bandar, Nawangan, Punung, Arjosari, serta Donorojo.

Secara kasat mata, lanjut Hadi, salah satu jalur sesar utama di Pulau Jawa 
itu searah dengan jalur Sungai Grindulu, yang memanjang dari Pantai Selatan 
hingga daerah hulu di Kecamatan Bandar. “Jalur sesar ini menjadi sangat rawan 
karena menjadi area rambatan gempa apabila terjadi tumbukan antara lempeng 
benua di Pulau Jawa dengan lempeng samudera di Laut Selatan,” terangnya.
Peta Jalur Sungai Grindulu
Dijelaskannya, dalam ilmu Geologi, dikenal tiga jenis struktur batuan, yakni patahan, 
sesar, dan lipatan. Istilah patahan merujuk pada kondisi lempeng bumi yang retak 
tetapi belum terjadi pergerakan. Sedangkan sesar dan lipatan merupakan patahan 
yang sudah bergerak dan menumpuk akibat tumbukan antara lempeng benua dan 
lempeng samudera.

Masalahnya, lempeng benua yang membentuk Pulau Jawa telah terbagi menjadi 
tiga patahan/sesar utama. Ketiga sesar yang tiap tahun bergerak dengan 
kecepatan 5-7 centimeter tersebut adalah Sesar Cimandiri, Opak serta Grindulu.
Sesar Pulau Jawa
Sesar Cimandiri terletak di Jawa Barat, Sesar Opak di Yogyakarta, sedangkan 
Sesar Grindulu di Kabupaten Pacitan. Ketiga sesar terbentuk selama ribuan 
tahun dan kondisinya (patahan) makin parah saat terjadi letusan besar 
Gunung Krakatau.

“Sebenarnya ada banyak patahan di pesisir selatan Pulau Jawa. Hanya skalanya 
berbeda, ada yang minor, sedang, dan mayor seperti halnya Sesar Grindulu, 
Opak, serta Cimandi,” terang Hadi.

Karena itu, Hadi mengimbau pada seluruh warga Pacitan, khususnya di lima 
kecamatan yang menjadi jalur sesar agar bersikap waspada. Masyarakat dianjurkan 
segera keluar rumah dan mencari lokasi tanah lapang yang aman demi menghindari 
efek kerusakan, jika sewaktu-waktu terjadi gempa tektonik di Pantai Selatan Jawa,
khususnya di sekitar Pacitan dan Jawa Tengah.

Suara Gemuruh dalam Tanah Disebabkan Aktivitas Sesar Grindulu
Hasil analisis sementara dari Tim Pusat Vulknologi dan Mitigasi Bencana Geologi 
menyebutkan bahwa getaran-getaran gempa kecil dan suara-suara gemuruh di 
dalam tanah yang terjadi di sekitar Gunung Wilis di wilayah Trenggalek dan 
sekitarnya di Jawa Timur disebabkan aktivitas Sesar Grindulu. Jika benar, maka 
aktivitas sesar tersebut patut diteliti secara saksama.
 Ahli geologi, Rovicky Dwi Putrohari, yang rajin mengamati aktivitas geologi 
kegempaan di Indonesia mengatakan, aktivitas tersebut kemungkinan berupa 
gerumbulan gempa. Dalam tulisan terbarunya diblognya, Dongeng Geologi,
ia menjelaskan bahwa gerumbulan gempa yang berupa aktivitas di sesar atau 
patahan biasanya memang hanya berkekuatan I-II MMI (modified mercally intencity) 
dan berkekuatan kurang dari 3 Skala Richter (SR) sehingga hanya dirasakan 
orang-orang di sekitar pusat gempa saja. Sesar Grindulu merupakan patahan 
panjang di Pulau Jawa yang berada di Jawa Timur.

Dengan kekuatan yang kecil, sensor gempa mencatatnya dalam kategori gempa 
tidak berbahaya. Namun, melihat data statistik yang ada, pusat gempa 
yang dirasakan ternyata memanjang sejajar dengan Sesar Grindulu yang selama
ini dianggap tak aktif. Menurut Rovicky, fenomena gerumbulan gempa 
tersebut pantas diwaspadai dengan melakukan mitigasi dan riset
yang mendalam.

"Misalnya perlu untuk menjawab pertanyaan, apakah mungkin swarm ini  
menunjukkan bahwa patahan Grindulu merupakan patahan aktif? Nah ini 
 perlu dijawab dengan riset kegempaan yang benar," kata Rovicky. Hal 
 tersebut perlu dilakukan agar jangan sampai Grindulu kecolongan seperti
  Sesar Opak di Yogyakarta yang ternyata aktif kembali pada tahun 2006 
dan menimbulkan gempa besar dan banyak korban.

Menurut Rovicky, Sesar Grindulu termasuk patahan yang belum dipetakan  
secara rinci saat ini. Ia mengatakan perlunya memerhatikan aktivitas  
kegempaan di lingkungan sekitarnya. Patahan pasif atau non-aktif bisa saja
aktif kembali karena pengaruh sekitarnya. Seperti Patahan Opak yang mungkin 
saja aktif kembali setelah tidur sekian lama karena aktivitas Gunung Merapi 
atau aktivitas kegempaan lainnya.
"Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan berpasangan dengan
Patahan Opak ini yang perlu diperhatikan. Misal Patahan Grindulu yang 
membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah Pacitan ke arah 
 timur laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam tanah berusia
  ribuan tahun sepanjang Sungai Grindulu barangkali dapat membantu 
 memberikan periodisasi kegempaan di daerah ini," ujarnya dalam 
 tulisannya lima tahun yang lalu.

Ia berharap Sesar Grindulu mendapat perhatian serius dari pemerintah 
 untuk melakukan mitigasi. Pemerintah juga perlu memberikan 
pengetahuan yang benar kepada masyarakat di sekitar daerah rawan 
bahaya untuk sadar dan waspada setiap saat sehingga dapat mengambil 
tindakan terbaik saat terjadi bencana.

Sumber : http://m.nationalgeographic.co.id, http://rovicky.wordpress.com, 
http://jurnalberita.com, geoenviron.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar